pialadunia2026.cc - AS Roma menunjukkan taringnya di Liga Europa 2024/2025 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Celtic. Pertandingan ini berlangsung di Celtic Park, Jumat (12/12/2025) dini hari WIB, dan meninggalkan kesan pahit bagi tuan rumah.

Striker muda Evan Ferguson menjadi sorotan utama. Pemain asal Irlandia itu memborong dua gol di babak pertama, menghancurkan mental Celtic dan membuat pertahanan tuan rumah kocar-kacir. Gol tambahan dari Roma di babak kedua memastikan Giallorossi pulang dengan kemenangan telak.

Bagi pelatih baru Celtic, Wilfried Nancy, hasil ini menjadi awal yang sulit. Ia kini tercatat sebagai manajer pertama The Hoops yang kalah di dua laga pertamanya.

Atmosfer di Celtic Park tampak suram. Banyak suporter bahkan meninggalkan stadion sebelum peluit panjang berbunyi, memperlihatkan betapa frustrasinya fans menghadapi performa buruk tim kesayangan mereka.

Baca Juga : Prediksi Pertandingan RB Leipzig vs Bayern Munchen 18 Januari 2026

Roma kini menunjukkan ambisi kuat di Liga Europa, sementara Celtic harus segera mencari solusi agar tidak terperosok lebih dalam di fase grup.

Blunder Liam Scales Berujung Gol, Evan Ferguson Antar Roma Menang

Celtic langsung kecolongan sejak menit keenam! Bek Liam Scales melakukan blunder fatal saat mencoba menanduk bola dari sepak pojok—sundulannya justru masuk ke gawang sendiri dan memberi AS Roma keunggulan cepat.

Gol bunuh diri ini langsung mengguncang mental tuan rumah. Pasukan Daniele De Rossi memanfaatkan momentum dengan menekan habis-habisan pertahanan Celtic.

Evan Ferguson, striker muda yang tengah naik daun, menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah. Sempat membentur tiang, Ferguson akhirnya mencetak dua gol tambahan sebelum turun minum, membawa Roma unggul 3-0 dan memastikan kemenangan telak di Celtic Park.

Dengan performa ini, Roma menunjukkan taringnya di Liga Europa, sementara Celtic kini harus segera memperbaiki mental dan pertahanan sebelum laga-laga berikutnya.

Sohotogel

Penalti Gagal dan Gol Dianulir Warnai Pertandingan

Celtic sempat mendapat secercah harapan sebelum turun minum. Di masa injury time babak pertama, wasit menghadiahi penalti bagi tuan rumah—peluang emas untuk memperkecil ketertinggalan. Sayangnya, eksekusi Arne Engels gagal, bola hanya membentur tiang gawang dan harapan Celtic pupus sejenak.

Memasuki babak kedua, pelatih Wilfried Nancy mencoba menggairahkan tim lewat tiga pergantian pemain sekaligus. Kelechi Iheanacho sempat mencetak gol, tetapi dianulir karena offside. Nasib serupa menimpa Leon Bailey dari Roma, yang golnya juga tak disahkan.

Skor tetap 3-0 untuk kemenangan Roma hingga peluit akhir, meninggalkan Celtic dengan rasa frustrasi dan membuat atmosfer Celtic Park semakin suram.

Wilfried Nancy Akui Lawan Unggul dalam Kualitas

Kekalahan telak dari AS Roma membuat Celtic semakin terpuruk di peringkat ke-24 klasemen sementara. Posisi mereka untuk lolos ke babak play-off kini berada di ujung tanduk.

Pelatih Wilfried Nancy mengakui bahwa timnya kalah segalanya dari wakil Italia tersebut. Menurutnya, tekanan tinggi yang diterapkan Roma membuat pemain Celtic kesulitan berkembang.

"Kenyataannya, kami tidak mampu mengimbangi intensitas mereka," ungkap Nancy kepada TNT Sports. "Ada beberapa momen di mana kami membuat mereka tidak seimbang, tetapi kami gagal menjaga ketajaman yang kami miliki."

Meski kecewa, Nancy tetap mencoba melihat sisi positif dari babak kedua. Ia menolak menyalahkan nasib buruk di awal laga.

"Saya tidak suka bicara soal keberuntungan, tapi gol pertama yang bersarang ke gawang kami jelas tidak membantu," tambahnya. "Bangkit dari ketertinggalan itu tidak mudah, tapi sikap para pemain sudah bagus."

Joe Hart Melontarkan Kritik Pedas untuk Mantan Klub

Performa buruk Celtic baru-baru ini memancing komentar keras dari mantan kiper mereka, Joe Hart. Ia menilai kondisi klub saat ini seperti sebuah drama sinetron yang penuh konflik internal.

Hart menyoroti kesenjangan yang makin lebar antara manajemen, pemain, dan suporter. Masalah yang tidak diselesaikan disebut menjadi biang kerok turunnya performa The Hoops.

Baca Juga : Toni Kroos Menyatakan Barcelona Tak Akan Juara Liga Champions Musim Ini

"Rasanya seperti sebuah opera sabun. Musim lalu adalah musim yang luar biasa, tetapi mereka tidak mengatasi masalah yang ada, dan kesenjangan itu makin melebar," ujar Hart dalam analisisnya di TNT Sports.

Ia menekankan bahwa manajemen tidak boleh terlena dengan kesuksesan masa lalu. Sepak bola terus bergerak maju, sementara Celtic saat ini terlihat jalan di tempat.

"Ini adalah klub yang sangat spesial ketika bersatu. Saat ini, mereka makin hanyut dan terpisah satu sama lain," tutup Hart.